Sabtu, 24 Maret 2018



RANTING
-Jangan Mudah Rapuh-
Semilir angin pelan mengusik kulit pucatnya. Mata bulat itu masih saja terus menatap langit yang kemerahan. Sedetik gadis itu melirik arloji yang terdapat pada pergelangan tangannya. Sesekali mata bulat itu masih ingin menatap langit bertabur burung yang melintas ingin kembali ke sangkar. Ia tersenyum, menghentikan langkah kakinya. Dengan saksama menatap burung berwarna putih tersebut, ia tidak tahu persis namanya. Namun burung itu mempunyai paruh yang panjang dan berwarna merah.
“Delapan…” ungkapnya lirih selesai menghitung burung terakhir yang jaraknya sudah cukup jauh. Kemudian, gadis itu melanjutkan kembali jalannya. Seperti biasa, sore ini ia baru pulang mengajar les private. Sudah sebulan lamanya ia menjalanin rutinitas itu semenjak lulus sekolah menengah atas. Untuk menambah penghasilan dan menabung untuk kuliah, pikirnya. Tapi, segala sesuatu yang sudah direncanakan tidak semuanya berjalanan dengan baik. Untuk tahun ini ia tidak bisa mengeyam pendidikan lanjut. Gadis itu tidak lanjut kuliah untuk sementara dikarenakan pihak keluarganya yang tidak mampu secara ekonomi.
Tidak ingin menyusahkan dan menambah beban pikiran keluarga, ia memilih untuk menunda kuliah dan menggantung cita-citanya menjadi seorang guru. Tidak apa, pikirnya lagi. Ada rencana yang paling indah dibalik ini semua. Ia menyimpan seluruh kata-kata motivasi di dalam dirinya sendiri. Ia menyadari bahwa kehidupannya dari bayi di awali dengan ketidakbahagiaan, karena ia sudah kehilangan seorang ibu semenjak umurnya sepuluh bulan. Meski begitu Bapak dan Kakak-Kakaknya merawatnya dengan kasih sayang yang lengkap. Seolah ia masih memiliki sang Ibu.
Laila nama gadis itu. Gadis bermata bulat serta mempunyai sifat yang ramah senyum. Sifat keramahannya dikenal dengan banyak orang dari kalangan teman sebaya ataupun yang lebih tua. Sifat itu mempunyai daya tarik bagi Laila, ia juga gadis yang rajin dan tidak malu untuk membantu orang lain. Seperti kata orang, bungkus tidak menggambarkan keadaan yang ada di dalamnya. Seperti itulah keadaan hati Laila yang sebenarnya. Ia bisa tersenyum, melalukan interaksi dengan teman sebaya, bahkan tak sedikit diantaranya dibuat tertawa. Ia membuat perlakuan itu sebagai obat, obat semua masalah yang selama ini ia hadapi. Jika dilihat secara kasat mata, orang-orang mengganggap hidup Laila akan baik-baik saja. Namun sebenarnya, kata baik-baik saja tidak cukup menggambarkan posisi hidupnya yang benar-benar jauh dari kata tersebut.
Ia hidup menumpang dengan kakak perempuannya, jauh dari kota kelahirannya ia menempuh sekolah menengah atas. Sudah tiga tahun berlalu, Laila menjadi seorang gadis yang cerdas. Ia selalu mendapatkan rangking di sekolah dan banyak mendapatkan teman yang baik serta siap membantunya ketika ia butuh. Tapi, tidak selamanya hidup bergantung orang lain. Laila selalu terkendala biaya, mau di sekolah ataupun untuk dirinya sendiri. Bahkan untuk sekedar mengeluh ia tidak tahu harus mengeluh ke siapa.
“Laila,” ketika berjalan dan sembari memikirkan masa lalunya, sebuah suara perempuan bercampur deru sepeda motor yang kini berhenti tepat di depannya, sontak membuat Laila sedikit kaget, ia menyipitkan matanya lalu merekahkan senyum.
“Dari mana?” ucap perempuan itu lagi dengan melayangkan senyum pada Laila.
“Mau pulang. apa kabar Wita?” Laila sedikit menggeser tubuhnya agar bisa melihat wajah teman lamanya itu dengan lebih jelas. Semasa sma Laila dan Wita sangat dekat, mereka selalu bersama kemana pun langkah mereka berjalan dan berhenti. Wita tahu semua tentang Laila dari hal sekecil apapun itu. Walaupun itu aibnya sendiri. Mereka sangat menyatu meskipun tahta memisahkan kehidupan mereka.
“Baik. Ila sendiri bagaimana kabarnya?” ungkap Wita dengan senyum yang sejak tadi belum juga sirna. Ia berencana mengajak Laila untuk ikut dengannya, mungkin setelah sholat mereka bisa makan malam sebentar. Setelah itu Wita akan mengantar Laila pulang. Berbeda dengan ekspresi Wita, lawan bicaranya itu menjawab ajakannya hanya dengan menggeleng. Ia menjelaskan akan kerja lagi pukul delapan malam.
“Kerja apa lagi, La? Bukannya hanya ngajar private?” laila menggeleng lalu tersenyum.
“Aku harus jaga warnet tetangga sampai jam sepuluh malam. Lumayan penghasilannya untuk nabung kuliah.”
“Jam berapa?”
“Mulai habis magrib. Lain waktu aja ya, sekarang belum bisa.” Wita menggangguk kemudian mereka berdua siap untuk kembali ke rumah masing-masing dengan mengendarai sepeda motor milik Wita. Selama diperjalanan tak ada kecanggungan,mereka tetap menjadi teman yang dulu. Menjadi teman cerita saling mengasikan dan tentunya saling menjaga. Jarak tidak menjadi halangan untuk mereka berdua jika telah berpisah secara materil. Sahabat sejati selalu punya rumah sendiri untuk ia berpulang. Percayalah, sahabat itu tidak harus banyak hingga menjadi koleksi, jika satu adalah yang terbaik. Maka pilihlah dia.
Setelah sampai Laila mengucapkan terima kasih dan menawari Wita untuk mampir karena sudah terlalu sore Wita menolak.
“Lain kali aja La. Sukses terus intinya!” dari sudut kejauhan bahu Wita semakin mengecil dan hilang di tikungan. Laila masih tidak bergeming ia hanyut dalam hayalan tentang sahabatnya itu. Kenapa hidupnya lebih baik dari aku ya Rabb? Pikir Laila. Laila menarik nafas kasar kemudian ia menggeleng dan menepis fikiran kotor itu. ia tidak boleh iri dengan siapa pun, rencana Allah lebih indah dari semua yang ia bayangkan.
Seperti kata pepatah, berakit-rakit kita ke hulu berenang-renang kita kemudian. Bersakit-sakit kita dahulu lalu bersenang-senang kemudian. Mungkin definisi bahagia belum ia rasakan sekarang. Tentang keluarga yang selalu tergantung padanya, tentang pendidikannya yang tertunda bahkan cita-citanya yang menggantung di depan kening. Semangat untuk mengeyam pendidikan di perguruan tinggi tak membuatnya sedikit pun putus asa karena hanya melihat teman-temannya lebih dulu berjuang.
Satu kata yang menggambarkan hidupnya, rapuh. Sekali pun kerapuhan itu telah disuntik dengan dorongan motivasi, ia tetap rapuh bagai ranting diujung pohon. Usaha dan doa selalu ia lakukan demi keseriusannya, namun itu masih menjadi tabungan dan belum juga diijabah dengan Allah. Meskipun ia meronta meminta keluar dari kehidupannya itu hanya sia-sia. Ia hanya menjadi makhluk kufur nantinya karena hanya bisa protes tanpa menjalankan ujian.
Baiklah, serapuh apapun hidupnya ia akan menjalanin itu mencapai ke ujung kehidupan. Ia bersikeras bahwa kehidupan dengan bola bumi sama-sama tak berujung, sekarang hanya tergantung niat yang menjalankan kehidupan tersebut. Percayalah, dari cela kehidupan kita yang paling buruk, di luar sana masih ada yang susah menjalanin hidupnya. Bersyukur adalah kata yang paling mudah untuk diucapkan namun prakteknya selalu tak terlaksana. Manusia hanya berfikir tentang kenikmatan karena sudah disuguhi dengan harta benda orangtua, akan tetapi tidak semua seperti itu. masih banyak yang harus memutar otak agar menjalanin kehidupan dengan layak.
Cerita Laila akan ada disekitar kita semua, kita tidak sadar bahwa suatu kenikmatan yang kita anggap biasa saja malah menjadi cambuk semangat untuk orang lain. sepele memang, hanya masalah cita-cita.
“Segala sesuatu yang kamu perbuat hari ini tidak ada kesia-siaan. Pilihan akan datang hanya kepada orang-orang yang tepat dan mengerti definisi lain tentang hidup, dan menghargai waktu.”
Inspired by Siti Nurhalimah teman satu SMA yang sejak dulu mengerti arti kesusahan tapi tidak ingin dibilang susah. Semangat terus ya, aku titip rindu dengan ombak pantai, semoga selalu dipermudah jalan dan tujuannya. Amiin

Momijigarii . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates