RANTING
RANTING
-Jangan
Mudah Rapuh-
Semilir angin pelan
mengusik kulit pucatnya. Mata bulat itu masih saja terus menatap langit yang
kemerahan. Sedetik gadis itu melirik arloji yang terdapat pada pergelangan tangannya.
Sesekali mata bulat itu masih ingin menatap langit bertabur burung yang
melintas ingin kembali ke sangkar. Ia tersenyum, menghentikan langkah kakinya.
Dengan saksama menatap burung berwarna putih tersebut, ia tidak tahu persis
namanya. Namun burung itu mempunyai paruh yang panjang dan berwarna merah.
“Delapan…” ungkapnya
lirih selesai menghitung burung terakhir yang jaraknya sudah cukup jauh.
Kemudian, gadis itu melanjutkan kembali jalannya. Seperti biasa, sore ini ia
baru pulang mengajar les private. Sudah
sebulan lamanya ia menjalanin rutinitas itu semenjak lulus sekolah menengah
atas. Untuk menambah penghasilan dan menabung untuk kuliah, pikirnya. Tapi,
segala sesuatu yang sudah direncanakan tidak semuanya berjalanan dengan baik.
Untuk tahun ini ia tidak bisa mengeyam pendidikan lanjut. Gadis itu tidak
lanjut kuliah untuk sementara dikarenakan pihak keluarganya yang tidak mampu
secara ekonomi.
Tidak ingin menyusahkan
dan menambah beban pikiran keluarga, ia memilih untuk menunda kuliah dan menggantung
cita-citanya menjadi seorang guru. Tidak apa, pikirnya lagi. Ada rencana yang
paling indah dibalik ini semua. Ia menyimpan seluruh kata-kata motivasi di
dalam dirinya sendiri. Ia menyadari bahwa kehidupannya dari bayi di awali
dengan ketidakbahagiaan, karena ia sudah kehilangan seorang ibu semenjak
umurnya sepuluh bulan. Meski begitu Bapak dan Kakak-Kakaknya merawatnya dengan
kasih sayang yang lengkap. Seolah ia masih memiliki sang Ibu.
Laila nama gadis itu.
Gadis bermata bulat serta mempunyai sifat yang ramah senyum. Sifat keramahannya
dikenal dengan banyak orang dari kalangan teman sebaya ataupun yang lebih tua.
Sifat itu mempunyai daya tarik bagi Laila, ia juga gadis yang rajin dan tidak
malu untuk membantu orang lain. Seperti kata orang, bungkus tidak menggambarkan
keadaan yang ada di dalamnya. Seperti itulah keadaan hati Laila yang
sebenarnya. Ia bisa tersenyum, melalukan interaksi dengan teman sebaya, bahkan
tak sedikit diantaranya dibuat tertawa. Ia membuat perlakuan itu sebagai obat,
obat semua masalah yang selama ini ia hadapi. Jika dilihat secara kasat mata,
orang-orang mengganggap hidup Laila akan baik-baik saja. Namun sebenarnya, kata
baik-baik saja tidak cukup menggambarkan posisi hidupnya yang benar-benar jauh
dari kata tersebut.
Ia hidup menumpang
dengan kakak perempuannya, jauh dari kota kelahirannya ia menempuh sekolah
menengah atas. Sudah tiga tahun berlalu, Laila menjadi seorang gadis yang
cerdas. Ia selalu mendapatkan rangking di sekolah dan banyak mendapatkan teman
yang baik serta siap membantunya ketika ia butuh. Tapi, tidak selamanya hidup
bergantung orang lain. Laila selalu terkendala biaya, mau di sekolah ataupun
untuk dirinya sendiri. Bahkan untuk sekedar mengeluh ia tidak tahu harus
mengeluh ke siapa.
“Laila,” ketika berjalan
dan sembari memikirkan masa lalunya, sebuah suara perempuan bercampur deru
sepeda motor yang kini berhenti tepat di depannya, sontak membuat Laila sedikit
kaget, ia menyipitkan matanya lalu merekahkan senyum.
“Dari mana?” ucap
perempuan itu lagi dengan melayangkan senyum pada Laila.
“Mau pulang. apa kabar
Wita?” Laila sedikit menggeser tubuhnya agar bisa melihat wajah teman lamanya
itu dengan lebih jelas. Semasa sma Laila dan Wita sangat dekat, mereka selalu
bersama kemana pun langkah mereka berjalan dan berhenti. Wita tahu semua
tentang Laila dari hal sekecil apapun itu. Walaupun itu aibnya sendiri. Mereka
sangat menyatu meskipun tahta memisahkan kehidupan mereka.
“Baik. Ila sendiri
bagaimana kabarnya?” ungkap Wita dengan senyum yang sejak tadi belum juga sirna.
Ia berencana mengajak Laila untuk ikut dengannya, mungkin setelah sholat mereka
bisa makan malam sebentar. Setelah itu Wita akan mengantar Laila pulang.
Berbeda dengan ekspresi Wita, lawan bicaranya itu menjawab ajakannya hanya
dengan menggeleng. Ia menjelaskan akan kerja lagi pukul delapan malam.
“Kerja apa lagi, La?
Bukannya hanya ngajar private?” laila menggeleng lalu tersenyum.
“Aku harus jaga warnet
tetangga sampai jam sepuluh malam. Lumayan penghasilannya untuk nabung kuliah.”
“Jam berapa?”
“Mulai habis magrib.
Lain waktu aja ya, sekarang belum bisa.” Wita menggangguk kemudian mereka
berdua siap untuk kembali ke rumah masing-masing dengan mengendarai sepeda
motor milik Wita. Selama diperjalanan tak ada kecanggungan,mereka tetap menjadi
teman yang dulu. Menjadi teman cerita saling mengasikan dan tentunya saling
menjaga. Jarak tidak menjadi halangan untuk mereka berdua jika telah berpisah
secara materil. Sahabat sejati selalu punya rumah sendiri untuk ia berpulang.
Percayalah, sahabat itu tidak harus banyak hingga menjadi koleksi, jika satu
adalah yang terbaik. Maka pilihlah dia.
Setelah sampai Laila
mengucapkan terima kasih dan menawari Wita untuk mampir karena sudah terlalu
sore Wita menolak.
“Lain kali aja La.
Sukses terus intinya!” dari sudut kejauhan bahu Wita semakin mengecil dan
hilang di tikungan. Laila masih tidak bergeming ia hanyut dalam hayalan tentang
sahabatnya itu. Kenapa hidupnya lebih
baik dari aku ya Rabb? Pikir Laila. Laila menarik nafas kasar kemudian ia
menggeleng dan menepis fikiran kotor itu. ia tidak boleh iri dengan siapa pun,
rencana Allah lebih indah dari semua yang ia bayangkan.
Seperti kata pepatah,
berakit-rakit kita ke hulu berenang-renang kita kemudian. Bersakit-sakit kita
dahulu lalu bersenang-senang kemudian. Mungkin definisi bahagia belum ia
rasakan sekarang. Tentang keluarga yang selalu tergantung padanya, tentang
pendidikannya yang tertunda bahkan cita-citanya yang menggantung di depan
kening. Semangat untuk mengeyam pendidikan di perguruan tinggi tak membuatnya sedikit
pun putus asa karena hanya melihat teman-temannya lebih dulu berjuang.
Satu kata yang
menggambarkan hidupnya, rapuh. Sekali pun kerapuhan itu telah disuntik dengan
dorongan motivasi, ia tetap rapuh bagai ranting diujung pohon. Usaha dan doa
selalu ia lakukan demi keseriusannya, namun itu masih menjadi tabungan dan
belum juga diijabah dengan Allah. Meskipun ia meronta meminta keluar dari
kehidupannya itu hanya sia-sia. Ia hanya menjadi makhluk kufur nantinya karena
hanya bisa protes tanpa menjalankan ujian.
Baiklah, serapuh apapun
hidupnya ia akan menjalanin itu mencapai ke ujung kehidupan. Ia bersikeras
bahwa kehidupan dengan bola bumi sama-sama tak berujung, sekarang hanya
tergantung niat yang menjalankan kehidupan tersebut. Percayalah, dari cela kehidupan
kita yang paling buruk, di luar sana masih ada yang susah menjalanin hidupnya.
Bersyukur adalah kata yang paling mudah untuk diucapkan namun prakteknya selalu
tak terlaksana. Manusia hanya berfikir tentang kenikmatan karena sudah disuguhi
dengan harta benda orangtua, akan tetapi tidak semua seperti itu. masih banyak
yang harus memutar otak agar menjalanin kehidupan dengan layak.
Cerita Laila akan ada
disekitar kita semua, kita tidak sadar bahwa suatu kenikmatan yang kita anggap
biasa saja malah menjadi cambuk semangat untuk orang lain. sepele memang, hanya
masalah cita-cita.
“Segala
sesuatu yang kamu perbuat hari ini tidak ada kesia-siaan. Pilihan akan datang
hanya kepada orang-orang yang tepat dan mengerti definisi lain tentang hidup,
dan menghargai waktu.”
Inspired by Siti
Nurhalimah teman satu SMA yang sejak dulu mengerti arti kesusahan tapi tidak
ingin dibilang susah. Semangat terus ya, aku titip rindu dengan ombak pantai,
semoga selalu dipermudah jalan dan tujuannya. Amiin
