Asam Manis Gula-Gula
Sungguh jika kalian
tahu, aku bukan orang yang tegar. Aku lagi sulit menyeimbangkan jiwa sekarang,
rasanya benar-benar rapuh. Jadi begini jauh dari orangtua, bawaannya sedih
mulu. Kalau lagi ngga semangat mau nangis aja, selalu begitu. Emang pada
dasarnya aku baper sih. Ngga bisa dipungkiri aku baperan, tapi selalu aja
mendam sendiri, seolah-olah aku baik-baik saja. Aku ngga mau terkesan lebay,
jikalau aku membagi cerita lebayku ini, disangka berbual karena memang aku
sulit menceritakan hal-hal privacy begini.
Someday if I die, aku
bahagia, aku tertawa, aku ngga ada beban. Itu semua bentuk penyembunyian
karakterku, lagian aku cerita tidak pernah di dengarkan dengan serius. Aku
cerita selalu saja berbeda pendapat, lagian aku juga lelah mengulang histori
yang sama setiap kali bercerita, jadi untuk itu aku memilih diam saja. Walaupun
menulis di sini akan dibaca khalayak ramai.
Entah kenapa, aku suka
lampu temaram. Suasana malam yang sunyi, sepi. Lalu hembusan angin membawa satu
dua daun kering di ujung kakiku. Aku suka seperti itu. Dulu, aku selalu
menyampaikan apa yang aku suka dengan temanku, mau itu teman karib, teman biasa
saja, atau teman bermuka topeng. Lantas, tanggapannya selalu sama, “terlalu
suka baca novel. Jadi gak sinkron sama dunia nyata.” Tau ga sih, perasaanku
gimana? Sakit tapi tertahan, mau ngelak juga engga bisa, jadinya hanya
pura-pura tertawa dan merendahkan diri lalu bilang, “iya sih, aku lebay. Hehe.”
Lalu melupakan sakit hati itu, kemudian dalam waktu beberapa hari terjadi hal
yang sama dengan orang yang berbeda.
Tau apa reaksiku? Ya,
aku menyumpahi diriku sendiri. Terlalu bodoh, tidak belajar dari pengalaman.
Mulai semenjak itu, aku memfilter kalimat yang tidak penting, tentang hobbyku,
tentang apa mauku, tentang perasaanku. Mungkin, jika aku ingin meluapkan segala
kekesalanku, aku akan mengambil pena dan kertas. Lalu mulai menulis semuanya
dengan hati, lalu apakah aku pantas menjuluki kertas dan pena sebagai
sahabatku?
Gulali itu rasanya manis, aku suka. Sangat suka, warna
pink bergelembung seperti kapas. Renyah-renyah, jika mendarat di mulut akan
menciut seperti kapas terkena alkohol. Belakangan ini aku menikmati gulali
dengan rasa yang berbeda, sebanyak apapun aku memakannya tetap saja rasanya
asam, tidak renyah, mudah ciut dan membosankan. Aku menggambarkannya seperti
perasaanku, jadi lebih baik aku tidak memakannya. Aku bosan. Sudah bosan, aku
juga memperumit hidupku, banyak asumsi yang berkelebat di otak, tentang ini,
tentang itu. Apalagi fokusku hanya di kamar, mau keluar juga nggak mendukung,
lebih ingin menyendiri. Keluar juga sama temen untuk apa ? udah setengah jalan
nanti aku ngga fokus kan malu.
Tulisan alay ini akan
pertama dan terakhir kalinya berada di-blogku, ngga tau gunanya apa. Hanya
ingin menyampaikan perasaan terluka, terjatuh dan terhempas. Sesaat aku mikir,
kenapa dulu ngga lahir di Kanada aja ya? Bisa megang maple, bisa bahagia
nikmatin salju, musim semi daun maple. Dan kenikmatan lainnya yang ngga bisa ku
dapatkan di Indo. Tapi, aku gak mau jadi kufur nikmat, yaudah doain aku bisa
megang daun maple yang asli ya. Aku
pasti bisa ke Kanada. Amiiin.
Bicara soal Kanada,
rasanya aku ingin lanjut S2 ke sana, masih dalam mimpi memang. Tapi aku ingin
melatih bahasaku, dengan mengambil jurusan yang saat ini ku tempuh. Bertemu
dengan orang-orang baru, berbincang, menjadikan mereka teman juga. Kira-kira,
watak orang Kanada seperti apa ya? Apa seperti orang Indonesia juga? Mengaku
masyarakat informasi namun menyalahgunakan informasi? Ah, rasanya indah jika berkhayal
memang, hayalan yang semu.
