Senin, 02 April 2018



Sungguh jika kalian tahu, aku bukan orang yang tegar. Aku lagi sulit menyeimbangkan jiwa sekarang, rasanya benar-benar rapuh. Jadi begini jauh dari orangtua, bawaannya sedih mulu. Kalau lagi ngga semangat mau nangis aja, selalu begitu. Emang pada dasarnya aku baper sih. Ngga bisa dipungkiri aku baperan, tapi selalu aja mendam sendiri, seolah-olah aku baik-baik saja. Aku ngga mau terkesan lebay, jikalau aku membagi cerita lebayku ini, disangka berbual karena memang aku sulit menceritakan hal-hal privacy begini.
Someday if I die, aku bahagia, aku tertawa, aku ngga ada beban. Itu semua bentuk penyembunyian karakterku, lagian aku cerita tidak pernah di dengarkan dengan serius. Aku cerita selalu saja berbeda pendapat, lagian aku juga lelah mengulang histori yang sama setiap kali bercerita, jadi untuk itu aku memilih diam saja. Walaupun menulis di sini akan dibaca khalayak ramai.
Entah kenapa, aku suka lampu temaram. Suasana malam yang sunyi, sepi. Lalu hembusan angin membawa satu dua daun kering di ujung kakiku. Aku suka seperti itu. Dulu, aku selalu menyampaikan apa yang aku suka dengan temanku, mau itu teman karib, teman biasa saja, atau teman bermuka topeng. Lantas, tanggapannya selalu sama, “terlalu suka baca novel. Jadi gak sinkron sama dunia nyata.” Tau ga sih, perasaanku gimana? Sakit tapi tertahan, mau ngelak juga engga bisa, jadinya hanya pura-pura tertawa dan merendahkan diri lalu bilang, “iya sih, aku lebay. Hehe.” Lalu melupakan sakit hati itu, kemudian dalam waktu beberapa hari terjadi hal yang sama dengan orang yang berbeda.
Tau apa reaksiku? Ya, aku menyumpahi diriku sendiri. Terlalu bodoh, tidak belajar dari pengalaman. Mulai semenjak itu, aku memfilter kalimat yang tidak penting, tentang hobbyku, tentang apa mauku, tentang perasaanku. Mungkin, jika aku ingin meluapkan segala kekesalanku, aku akan mengambil pena dan kertas. Lalu mulai menulis semuanya dengan hati, lalu apakah aku pantas menjuluki kertas dan pena sebagai sahabatku?
Gulali  itu rasanya manis, aku suka. Sangat suka, warna pink bergelembung seperti kapas. Renyah-renyah, jika mendarat di mulut akan menciut seperti kapas terkena alkohol. Belakangan ini aku menikmati gulali dengan rasa yang berbeda, sebanyak apapun aku memakannya tetap saja rasanya asam, tidak renyah, mudah ciut dan membosankan. Aku menggambarkannya seperti perasaanku, jadi lebih baik aku tidak memakannya. Aku bosan. Sudah bosan, aku juga memperumit hidupku, banyak asumsi yang berkelebat di otak, tentang ini, tentang itu. Apalagi fokusku hanya di kamar, mau keluar juga nggak mendukung, lebih ingin menyendiri. Keluar juga sama temen untuk apa ? udah setengah jalan nanti aku ngga fokus kan malu.
Tulisan alay ini akan pertama dan terakhir kalinya berada di-blogku, ngga tau gunanya apa. Hanya ingin menyampaikan perasaan terluka, terjatuh dan terhempas. Sesaat aku mikir, kenapa dulu ngga lahir di Kanada aja ya? Bisa megang maple, bisa bahagia nikmatin salju, musim semi daun maple. Dan kenikmatan lainnya yang ngga bisa ku dapatkan di Indo. Tapi, aku gak mau jadi kufur nikmat, yaudah doain aku bisa megang daun maple yang asli ya.  Aku pasti bisa ke Kanada. Amiiin.
Bicara soal Kanada, rasanya aku ingin lanjut S2 ke sana, masih dalam mimpi memang. Tapi aku ingin melatih bahasaku, dengan mengambil jurusan yang saat ini ku tempuh. Bertemu dengan orang-orang baru, berbincang, menjadikan mereka teman juga. Kira-kira, watak orang Kanada seperti apa ya? Apa seperti orang Indonesia juga? Mengaku masyarakat informasi namun menyalahgunakan informasi? Ah, rasanya indah jika berkhayal memang, hayalan yang semu.


Momijigarii . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates