Sekeping Kata Maaf
Pun, aku yang terluka.
Tidak punya cara lain selain tertawa.
Pun, kamu yang bahagia.
Meninggalkan harapan
tanpa rasa dosa.
Pun juga, ada sekelebat
pernyataan sarkastik teruntukmu.
Teruntukmu… Penebar
dosa.
Pun, kau menabur rasa.
Katamu adalah duka,
tapi tetap saja ku menjadi penyuka.
Katamu lagi tak ku
dengar. Sebisa mungkin dua tanganku menutup paksa telinga ini, walaupun hati
panas mencari jati.
Berhentilah, lukamu
sudah menyebar.
Berhentilah, pedangmu
sudah mendarat jauh ke relung hati.
Jika kau berlapang
dada, izinkah kau untuk mendengar?
Suara hati orang kecil
ini, memintamu berkata maaf dengan segenap rasa.
Ataukah, izinkan aku
berbisik di daun telinga itu, “Maaf
sudah datang dan membuat api yang kau nyalakan semakin memarak dan sedang
membakar jiwaku sendiri.” Kataku kemudian.
Medan, 12 April
2018
Momijigarii.
