Setahun Lalu Saat Bersamamu
Oktober sudah bertemu
kembali, melambai-lambai, berdadah-dadah ria menyambut hari ulangtahunmu. Tahun
sudah berulang, menepikan hari terakhir sebelum tanggal tujuh-belas lalu
bersulang ria tepat puncak tengah malam. Sangat disayangkan, mataku sudah layu
dan gugur dalam mimpi hingga terlupa jika kau memasuki era baru dalam hidupmu.
Senyummu riang
menyambut hari istimewa, bukan hanya kau, tapi juga Kakak, Adik, Mama, Ayah
sampai teman-temanmu pun ikut berbahagia karena umurmu telah bertambah.
Barakallah.
Teringat betul, tahun
ini aku dan kau tidak leluasa. Tidak dengan bicara, ataupun menyapa. Ya, tentu
saja kita sudah saling menjauh. Membuat jarak semakin tertera, meninggalkan
kenangan dengan goresan luka.
Diingatakanku, kita tak
lagi sama. Kau semakin kaku menunjukan wajah, menahan senyum dengan lekukan
lelah. Tak ada lagi kalimat ‘hahaha’ saat tengah malam untuk singgah.
Bukannya aku masih ada?
Apakah kita berdua
masih ada? Lalu jawabannya, ya, tapi bukan apa-apa.
Mungkin situasi ini yang
membuat kita harus dimengerti tanpa harus mengerti. Ingin dipahami tanpa harus
memahami. Mungkin juga, obrolan kita sudah basi sehingga sudah menyesatkan
inti. Ataupun, mungkin saja kita tidak memliki arti dan menuntut diri sendiri
untuk mengistirahatkan hati.
Aku tahu, kita tidak
benar-benar membuang muka karena kita pernah menulis cerita yang sama dalam
satu wadah. Meski waktu tertimbun jarak, tetapi alur tetap tidak berubah;
kita berpisah dalam keadaan paling sulit yang pernah kuterima.
Dibuat
untuk siapapun!
Terutama
untuk yang patah hati karena nggak bisa ngucapin ulangtahun si mantan ‘teman’
Ditulis
setelah makan micin.
-Momijigarii
